Sabtu, 07 Januari 2012

7 langakah mencuci tangan

Putus Rantai Penularan Penyakit Infeksi Dengan 7 Langkah Cuci Tangan  

      Sadarkah Anda hanya dengan telapak tangan kosong Anda mampu membuat sakit ratusan hingga ribuang orang? Pertanyaan tadi memang tampak bombastis, tetapi hal tersebut memang nyata dan bisa terjadi cukup dengan telapak tangan Anda dan tanpa perlu bersusah payah mempelajari olahraga bela diri sekalipun.
 
     Mungkin sudah tidak asing bagi Anda melihat gencarnya iklan produk sabun dalam memasarkan iklan untuk masyarakat agar berperilaku untuk mencuci tangan dengan benar. Bahkan kini bisa dilihat di beberapa rumah sakit dan klinik, terpajang poster 7 langkah cuci tangan yang benar. Hal-hal tersebut bukanlah sekedar advis atau nasihat yang lantas hanya untuk diperhatikan tanpa dilaksanakan, pada telapak tangan Anda terdapat berjuta-juta kuman dan beberapa diantaranya mampu menyebabkan penyakit, salah satunya yang tersering adalah diare atau yang lebih dikenal di dalam ilmu kesehatan sebagai Gastro Enteritis Akut (GEA)
       Kedua telapak tangan Anda adalah media yang mudah bagi penyebaran beberapa bakteri dan virus yang mudah menimbulkan sakit pada orang lain. Tanpa sadar Anda sudah menyentuh sesuatu di tempat umum misalnya pegangan tangga, padahal sebelumnya sudah dipegang oleh jutaan manusia yang membawa penyakit GEA, flu, dan sebagainya, sehingga ketika Anda makan tanpa mencuci tangan, maka kuman-kuman tersebut akan masuk ke dalam tubuh dan mulai menyebabkan penyakit. Untuk itu sangat-sangat dianjurkan bagi Anda untuk mencuci tangan pada air bersih yang mengalir dan jangan lupa menggunakan sabun dan mengikuti 7 langkah mencuci tangan seperti pada gambar diatas.

Putus rantai penularan penyakit infeksi sekarang juga hanya dengan, mencuci tangan

ebook indonesia

terdapat banyak kumpulan ebook versi bahasa indonesia hanya di ebook andalan.klik menu yang ada diatas dan dapatkan ebook secara gratis 100% silakan download

Kamis, 05 Januari 2012

askep gastritis


GASTRITIS

Defenisi
Gastritis adalah suatu peradangan pada dinding gaster terutama pada lapisan mukosa gaster. (sujono  hadi 1999:181)

Etiologi
1.    Stress
2.    Zat kimia
Alkhol
Obat terutama golongan NSAID misalkan aspirin
3.    Makanan yang merangsang panas, pedas, asam.
4.    Helicobactaer pylori (pada gastritis kronis)

§    Produksi HCL didalam lambung akan menimbulkan mual, muntah dan anoreksia dan rasa nyeri.
§    Sel epitel kolumner berfungsi untuk menghasilkan mucus (melindungi mucosa lambung agar tidak tercena).





Pathways
Stress    alcohol, obat    makanan(pedas, panas, asam)    helicobacter pylory


Merangsang saraf        iritasi sel epitel columner gaster    menyerang bagian fundus
Simpatik N Vagus                      gaster
        Produksi mucus berkurang       
            Deskuamasi sel
    Respon lambung    respon lambung
    dilatasi mukosa            eksfollasi        Respon radang kronis
              * Destruksi kelenjar
            Erosi sel mukosa      * Metaplasia

    Produksi HCL↑                    Kerusakan pembuluh         sel mukosa        elastisitas
                                    Darah mukosa            hilang            sel berkurang

CP I mual, muntah            iritasi lambung        CP III perdarahan        gastritis kronis        kekakuan
                   
                    CP II nyeri        melena            hematomesis                     nyeri

                Gastritis akut                                                              komplikasi ulkus  peptikum           
Diagnosa Keperawatan
§    Nyeri acut berhubungan dengan perlukaan pada mukosa gaster (injury agents (biological, psychological, chemical, physical)
Intervensi :
Kaji lokasi lama dan intesitas nyeri
R: membandingkan dengan gejala nyeri sebelumnya dan    menentukan penganbilan tindakan keperawatan.
Ajarkan teknik distraksi
R: mengalihkan perhatilan klien untuk mengurangi nyeri
Berikan analgetik terutama golongan narkotik
R: mengurangi rasa nyeri dan aktifitas peristaltic

Kaji keefektifan peristaltic
§    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan inability to ingest or digest food or absorb nutrients due to biological, psychological, or economic factor.  
Intervensi
Berikan makanan sedikit tapi sering misal biscuit
R: makanan mempunyai efek penetralisir asam HCL
Anjurkan pasien untuk mengindari makanan yang merangsang
R: Makanan yang merangsang dapat meningkatkan produksi HCL
Ukur berat badan secara tearatur.
R: Mengetahui peningkatan dan penuruna berat badan secara cepat
Kolaborasi dokter untuk pemberian vit B dan  vit B 12
R: Meningkatkan nafsu makan dan meningakatkan absorbsi nutrisi

§    Resiko untuk ketidakseimbangan volume cairan berhubungan dengan other risk factor to be determined ( misalkan perdarahan sekunder)
Intervensi
Catat banyaknya perdarahan
R: Dapat dijadiakan pedoman untuk mengganti jumlah darah yang keluar
Monitor tanda vital (tensi dan nadi)
R: Mengetahui keadekuatan sirkulasi, tensi dan nadi dapat digunakan untuk perkirakan kasar kehilangan darah.
Kaji perubahan tingkat kesadaran
R: Perubahan tingkat kesadaran menunjukkan suplai darah ke otak berkurang]



Kolaborasi dokter untuk pemberian cairan intravena
R: Mengganti kehilangan cairan dan memperbaiki   keseimbangan cairan. 
                   













   



Daftar pustaka

Doenges, Marilynn, Moorhouse, Mary France dan Geisseier, Alice C, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3, Penerbit EGC, Jakarta.
Hadi, Sujono, 1999, Gastroenterology, Penerbit Alumni, Jakarta.
Price, Sylvia A dan Wilson, lorraine, 2005, Patofisiologi, edisi 6, EGC, Jakarta.
Underwood, J. C. E., 1996, Patologi Umum Dan Sistemik, edisi 2, EGC, Jakarta.
Nanda, International, 2005, Nursing Diagnosis : Definition & Classification, philadelphia

askep gagal jantung


GAGAL JANTUNG (HEART FAILURE)

Pengertian.
Suatu kegagalan jantung dalam memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh (Purnawan Junadi, 1982).
Kegagalan jantung kongestif adalah suatu kegagalan pemompaan (di mana cardiac output tidak mencukupi kebutuhan metabolik tubuh), hal ini mungkin terjadi sebagai akibat akhir dari gangguan jantung, pembuluh darah atau kapasitas oksigen yang terbawa dalam darah yang mengakibatkan jantung tidak dapat mencukupi kebutuhan oksigen pada erbagai organ (Ni Luh Gede Yasmin, 1993).

Insiden
Gagal jantung dapat di alami oleh setiap orang dari berbagai usia. Misalnya neonatus dengan penyakit jantung kongenital atau orang dewasa dengan penyakit jantung arterosklerosis, usia pertengahan dan tua sering pula mengalami kegagalan jantung (Ni Luh Gede Yasmin, 1993)..

Patofisiologi
Jantung yang normal dapat berespons terhadap peningkatan kebutuhan metabolisme yang menggunakan mekanisme kompensasi yang bervariasi untuk mempertahankan kardiak output. Ini mungkin meliputi: respons sistem syaraf simpatetik terhadap baro reseptor atau kemoreseptor, pengencangan dan pelebaran otot jantung untuk menyesuikan terhadap peningkatan volume, vasokonstyrinksi arteri renal dan aktivasi sistem renin angiotensin serta respon terhadap serum-serum sodium dan regulasi ADH dari reabsorbsi cairan.
Kegagalan mekanisme kompensasi di percepat oleh adanya volume darah sirkulasi yang di pompakan untuk menentang peningkatan resisitensi vaskuler oleh pengencangan jantung. Kecepatan jantung memperpendeka waktu pengisian ventrikel dan arteri koronaria, menurunnya kardiak ouput menyebabkan berkurangnya oksigenasi pada miokard.
Peningkatan tekanan dinding pembuluh darah akibat dilatasi menyebabkan peningkatan tunutan oksigen dan pembesaran jantung (hipertropi) terutama pada jantung iskemik atau kerusakan, yang menyebabkan kegagalan mekanisme pemompaan.
Peningkatan metabolisme tubuh
Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:

Mekanisme kompensasi yang digunakan antara lain:
Peningkatan HR.
Hipertropi miokard.
Pengaktifan sistem renin angiotensin.
Regulasi  ADH dan reabsorbsi cairan.
Jantung menggunakan mekanisme kompensasi untuk mempertahankan kardiak output



Peningkatan beban kerja jantung oleh karena peningkatan SVR


Jantung bekerja lebih keras dengan meningkatkan HR


Memperpendek waktu pengisian ventrikel dan arteri koronaria



Menimbulkan injury dan iskemi pada miokard


Menimbulkan injury dan iskemi pada miokard


Menimbulkan kegagalan mekanisme pemompaan





Kegaglan jantung dapat di nyatakan sebagai kegagalan sisi kiri atau sisi kanan jantung. Kegagalan pada salah satu sisi jantung dapat berlanjut dengan kegagalan pada sisi yang lain dan manifestasi klinis yang sering menampakan kegagalan pemompaan total. Manifestasi klinis dari gagal jantung kanan adalah: edema, distensi vena, asites, penambahan berat badan, nokturia, anoreksia, peningkatan tekanan atrium kanan, peningkatan tekanan vena perifer.
Manifestasi klinis dari gagal jantung sisi kiri adalah: dispnea on effort, orthopnea, sianosis, batuuk, dahak berdarah, lemah, peningkatan tekanan pulmonari kapiler, peningkatan tekanan atrium kiri.
Mekanisme hipertensi meningkatkan resiko
Bila kebanyakan pembacaan tekanan diastole tetap pada atau di atas 90 mmHg setelah 6-12 bulan tanpa terapi obat, maka orang itu di anggap hipertensi dan resiko tambahan bagi penyakit jantung koroner.
Secara sederhana di katakan peningkatan tekanan darah mempercepat arterosklerosis dan arteriosklerosis sehingga ruptur dan oklusi vaskuler terjadi sekitar 20 tahun lebih cepat daripada orang dengan normotensi. Sebagian mekanisme terlibat dalam proses peningkatan tekanan darah yang mengkibatkan perubahan struktur di dalam pembuluh darah, tetapi tekanan dalam beberapa cara terlibat langsung. Akibatnya, lebih tinggi tekanan darah, lebih besar jumlah kerusakan vaskular.

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gagal Jantung
Pengkajian
Aktivitas dan istirahat
Kelemahan, kelelahan, ketidakmampuan untuk tidur (mungkin di dapatkan Tachycardia dan dispnea pada saat beristirahat atau pada saat beraktivitas).

Sirkulasi
Mempunyai riwayat IMA, Penyakit jantung koroner, CHF, Tekanan darah tinggi, diabetes melitus.
Tekanan darah mungkin normal atau meningkat, nadi mungkin normal atau terlambatnya capilary refill time, disritmia.
Suara  jantung , suara jantung tambahan S3 atau S4 mungkin mencerminkan terjadinya kegagalan jantung/ ventrikel kehilangan kontraktilitasnya.
Murmur jika ada merupakan akibat dari insufisensi katub atau muskulus papilaris yang tidak berfungsi.
Heart rate mungkin meningkat atau menglami penurunan (tachy atau bradi cardia).
Irama jantung mungkin ireguler atau juga normal.
Edema: Jugular vena distension, odema anasarka, crackles mungkin juga timbul dengan gagal jantung.
Warna kulit mungkin pucat baik di bibir dan di kuku.
Eliminasi
Bising usus mungkin meningkat atau juga normal.
Nutrisi
Mual, kehilangan nafsu makan, penurunan turgor kulit, berkeringat banyak, muntah dan perubahan berat badan.
Hygiene perseorangan
Dispnea atau nyeri dada atau dada berdebar-debar pada saat melakukan aktivitas.
Neoru sensori
Nyeri kepala yang hebat, Changes mentation.
Kenyamanan
Timbulnya nyeri dada yang tiba-tiba yang tidak hilang dengan beristirahat atau dengan nitrogliserin.
Lokasi nyeri dada bagian depan substerbnal yang mungkin menyebar sampai ke lengan, rahang dan wajah.
Karakteristik nyeri dapat di katakan sebagai rasa nyeri yang sangat yang pernah di alami. Sebagai akibat nyeri tersebut mungkin di dapatkan wajah yang menyeringai, perubahan pustur tubuh, menangis, penurunan kontak mata, perubahan irama jantung, ECG, tekanan darah, respirasi dan warna kulit serta tingkat kesadaran. 
Respirasi
Dispnea dengan atau tanpa aktivitas, batuk produktif, riwayat perokok dengan penyakit pernafasan kronis. Pada pemeriksaan mungkin di dapatkan peningkatan respirasi, pucat atau cyanosis, suara nafas crakcles atau wheezes atau juga vesikuler. Sputum jernih atau juga merah muda/ pink tinged.
Interaksi sosial
Stress, kesulitan dalam beradaptasi dengan stresor, emosi yang tak terkontrol.
Pengetahuan
Riwayat di dalam keluarga ada yang menderita penyakit jantung, diabetes, stroke, hipertensi, perokok.
Studi diagnostik
ECG menunjukan: adanya S-T elevasi yang merupakan tanda dri iskemi, gelombang T inversi atau hilang yang merupakan tanda dari injuri, dan gelombang Q yang mencerminkan adanya nekrosis.
Enzym dan isoenzym pada jantung:  CPK-MB meningkat dalam 4-12 jam, dan mencapai puncak pada 24 jam. Peningkatan SGOT dalam 6-12 jam dan mencapai puncak pada 36 jam.
Elektrolit: ketidakseimbangan yang memungkinkan terjadinya penurunan konduksi jantung dan kontraktilitas jantung seperti hipo atau hiperkalemia.
Whole blood cell: leukositosis mungkin timbul pada keesokan hari setelah serangan.
Analisa gas darah:  Menunjukan terjadinya hipoksia atau proses penyakit paru yang kronis atau akut.
Kolesterol atau trigliseid: mungkin mengalami peningkatan yang mengakibatkan terjadinya arteriosklerosis.
Chest X ray: mungkin normal atau adanya cardiomegali, CHF, atau aneurisma ventrikuler.
Echocardiogram: Mungkin harus di lakukan guna menggambarkan fungsi atau kapasitas masing-masing ruang pada jantung.
Exercise stress test:  Menunjukan kemampuan jantung beradaptasi terhadap suatu stress/ aktivitas.

Diagnosa keperawatan dan rencana tindakan
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan jantung
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien di harapkan mampu menunjukan adanya penurunan rasa nyeri dada, menunjukan adanya penuruna tekanan dan cara berelaksasi.
Rencana:
Monitor dan kaji karakteristik dan lokasi nyeri.
Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, kesadaran).
Anjurkan pada pasien agar segera melaporkan bila terjadi nyeri dada.
Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman.
Ajarkan dan anjurkan pada pasien untuk melakukan tehnik relaksasi.
Kolaborasi dalam:
Pemberian oksigen.
Obat-obatan (beta blocker, anti angina, analgesic)
Ukur tanda vital sebelum dan sesudah dilakukan pengobatan dengan narkosa.
Intoleransi aktivitas berhubungan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemi pada miokard.
Tujuan: setelah di lakukan tindakan perawatan klien menunnjukan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas (tekanan darah, nadi, irama dalam batas normal) tidak adanya angina.
Rencana:
Catat irama jantung, tekanan darah dan nadi sebelum, selama dan sesudah melakukan aktivitas.
Anjurkan pada pasien agar lebih banyak beristirahat terlebih dahulu.
Anjurkan pada pasien agar tidak “ngeden”  pada saat buang air besar.
Jelaskan pada pasien tentang tahap- tahap aktivitas yang boleh dilakukan oleh pasien.
Tunjukan pada pasien tentang tanda-tanda fisiki bahwa aktivitas melebihi batas.

Resiko terjadinya penurunan cardiac output berhubungan dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
Tujuan: tidak terjadi penurunan cardiac output selama di lakukan tindakan keperawatan.
Rencana:
Lakukan pengukuran tekanan darah (bandingkan kedua lengan pada posisi berdiri, duduk dan tiduran jika memungkinkan).
Kaji kualitas nadi.
Catat perkembangan dari adanya S3 dan S4.
Auskultasi suara nafas.
Dampingi pasien pada saat melakukan aktivitas.
Sajikan makanan yang mudah di cerna dan kurangi konsumsi kafeine.
Kolaborasi dalam: pemeriksaan serial ECG, foto thorax, pemberian obat-obatan anti disritmia.

Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.
Tujuan: selama dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi penurunan perfusi jaringan.
Rencana:
Kaji adanya perubahan kesadaran.
Inspeksi adanya pucat, cyanosis, kulit yang dingin dan penurunan kualitas nadi perifer.
Kaji adanya tanda Homans (pain in calf on dorsoflextion), erythema, edema.
Kaji respirasi (irama, kedalam dan usaha pernafasan).
Kaji fungsi gastrointestinal (bising usus, abdominal distensi, constipasi).
Monitor intake dan out put.
Kolaborasi dalam: Pemeriksaan ABG, BUN, Serum ceratinin dan elektrolit.

Resiko terjadinya ketidakseimbangan cairan excess berhubungan dengan penurunan perfusi organ (renal), peningkatan retensi natrium, penurunan plasma protein.
Tujuan: tidak terjadi kelebihan cairan di dalam tubuh klien selama dalam perawatan.
Rencana:
Auskultasi suar nafas (kaji adanya crackless).
Kaji adanya jugular vein distension, peningkatan terjadinya edema.
Ukur intake dan output (balance cairan).
Kaji berat badan setiap hari.
Najurkan pada pasien untuk mengkonsumsi total cairan maksimal 2000 cc/24 jam.
Sajikan makan dengan diet rendah garam.
Kolaborasi dalam pemberian deuritika.
DAFTAR PUSTAKA

Barbara C long. (1996). Perawatan Medical Bedah. Pajajaran Bandung.

Carpenito J.L. (1997). Nursing Diagnosis. J.B Lippincott. Philadelpia.

Carpenito J.L. (1998.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8 EGC. Jakarta.

Doengoes, Marylin E. (2000). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.

Hudack & Galo. (1996). Perawatan Kritis. Pendekatan Holistik. Edisi VI, volume I EGC. Jakarta.

Junadi, Purnawan. (1982). Kapita Selekta Kedokteran. Media aesculapius Universitas Indonesia. Jakarta.

Kaplan, Norman M. (1991). Pencegahan Penyakit Jantung Koroner. EGC Jakarta.

Lewis T. (1993). Disease of The Heart. Macmillan. New York.

Marini L. Paul. (1991). ICU Book. Lea & Febriger. Philadelpia.

Morris D. C. et.al, The Recognation and treatment of Myocardial Infarction and It’sComplication.

Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. (1993). Proses Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Krdiovaskuler. Departemen Kesehatan. Jakarta.

Tabrani. (1998). Agenda Gawat Darurat. Pembina Ilmu. Bandung.

                    (1994). Pedoman Diagnosis Dan Terapi Ilmu Penyakit Jantung. Fakultas Kedokteran Unair & RSUD dr Soetomo Surabaya

LP DEABETESMILITUS


LAPORAN PENDAHULUAN

Konsep Dasar
Definisi
Diabetes Mellitus ( DM ) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, demham tanda – tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein. ( Askandar, 2000 ).
Gangren adalah proses atau keadaan  yang ditandai dengan adanya jaringan mati atau nekrosis, namun secara mikrobiologis adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi. ( Askandar, 2001 ).
Gangren Kaki Diabetik adalah luka pada kaki yang merah kehitam-hitaman dan berbau busuk akibat sumbatan yang terjadi di pembuluh darah sedang atau besar di tungkai. ( Askandar, 2001).
Anatomi Fisiologi
Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar yang panjangnya kira – kira 15 cm, lebar  5 cm, mulai dari duodenum sampai ke limpa  dan beratnya rata – rata 60 – 90 gram. Terbentang pada vertebrata lumbalis 1 dan 2 di belakang lambung.
Pankreas merupakan kelenjar endokrin terbesar yang terdapat di dalam tubuh baik hewan maupun manusia. Bagian depan ( kepala ) kelenjar pankreas terletak pada lekukan yang dibentuk oleh duodenum dan bagian pilorus dari lambung. Bagian badan yang merupakan bagian utama dari organ ini merentang ke arah limpa dengan bagian ekornya menyentuh atau terletak pada alat ini. Dari segi perkembangan  embriologis, kelenjar pankreas terbentuk dari epitel yang berasal dari lapisan epitel yang membentuk usus.
Pankreas terdiri dari dua jaringan utama, yaitu :
(1). Asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum.
(2). Pulau Langerhans yang tidak tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah.
Pulau – pulau Langerhans yang menjadi sistem endokrinologis dari pamkreas tersebar di seluruh pankreas dengan berat hanya 1 – 3 % dari berat total pankreas. Pulau langerhans berbentuk ovoid dengan besar masing-masing pulau berbeda. Besar pulau langerhans yang terkecil adalah 50 m, sedangkan yang terbesar 300 m, terbanyak adalah yang besarnya 100 – 225 m. Jumlah semua pulau langerhans di pankreas diperkirakan antara 1 – 2 juta.
Pulau langerhans manusia, mengandung tiga jenis sel utama, yaitu :
(1). Sel – sel A ( alpha ), jumlahnya sekitar 20 – 40 % ; memproduksi glikagon yang manjadi faktor hiperglikemik, suatu hormon yang mempunyai “ anti insulin like activity “.
(2). Sel – sel B ( betha ), jumlahnya sekitar 60 – 80 % , membuat insulin.
(3). Sel – sel D ( delta ), jumlahnya sekitar 5 – 15 %, membuat somatostatin.
Masing – masing sel tersebut, dapat dibedakan berdasarkan struktur dan sifat pewarnaan. Di bawah mikroskop pulau-pulau langerhans ini nampak berwarna pucat dan banyak mengandung pembuluh darah kapiler. Pada penderita DM, sel beha sering ada tetapi berbeda dengan sel beta yang  normal dimana sel beta tidak menunjukkan reaksi pewarnaan untuk insulin sehingga dianggap tidak berfungsi.
Insulin merupakan protein kecil dengan berat molekul 5808 untuk insulin manusia. Molekul insulin terdiri dari dua rantai polipeptida yang tidak sama, yaitu rantai A dan B. Kedua rantai ini dihubungkan oleh  dua jembatan ( perangkai ), yang terdiri dari disulfida. Rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri dari 30 asam amino. Insulin dapat larut pada pH 4 – 7 dengan titik isoelektrik pada 5,3. Sebelum insulin dapat berfungsi, ia harus berikatan dengan protein reseptor yang besar di dalam membrana sel.
Insulin di sintesis sel beta pankreas dari proinsulin dan di simpan dalam butiran berselaput yang berasal dari kompleks Golgi. Pengaturan sekresi insulin dipengaruhi efek umpan balik kadar glukosa darah pada pankreas. Bila kadar glukosa darah meningkat diatas 100 mg/100ml darah, sekresi insulin meningkat cepat. Bila kadar glukosa normal atau rendah, produksi insulin akan menurun.
Selain kadar glukosa darah, faktor lain seperti asam amino, asam lemak, dan hormon gastrointestina merangsang sekresi insulin dalam derajat berbeda-beda. Fungsi metabolisme utama insulin untuk meningkatkan kecepatan transport glukosa melalui membran sel ke jaringan terutama sel – sel otot, fibroblas dan sel lemak.



   Etiologi
Diabetes Melitus
DM mempunyai etiologi yang heterogen, dimana berbagai lesi dapat menyebabkan insufisiensi insulin, tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas DM. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu :
Kelainan sel beta pankreas, berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel beta melepas insulin.
Faktor – faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta, antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan, obesitas dan kehamilan.
Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang disertai pembentukan sel – sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel - sel penyekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus.
Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin.
Gangren Kaki Diabetik
Faktor – faktor yang berpengaruh atas terjadinya gangren kaki diabetik dibagi menjadi endogen dan faktor eksogen.
Faktor endogen : a. Genetik, metabolik
b. Angiopati diabetik
c. Neuropati diabetik
Faktor eksogen :  a. Trauma
b. Infeksi
c. Obat
4. Patofisiologis
a. Diabetes Melitus
Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin berikut:
Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel – sel tubuh yang mengakibatkan naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300 – 1200 mg/dl.
Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang menyebabkan terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolestrol pada dinding pembuluh darah.
Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.
Pasien – pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. Pada hiperglikemia yng parah yang melebihi ambang ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 – 180 mg/100 ml ), akan timbul glikosuria karena tubulus – tubulus renalis tidak dapat  menyerap kembali semua glukosa. Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang menyebabkan poliuri disertai kehilangan sodium, klorida, potasium, dan pospat. Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi. Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi cepat telah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi.
Hiperglikemia yang lama  akan menyebabkan arterosklerosis, penebalan membran basalis dan perubahan pada saraf perifer. Ini akan memudahkan terjadinya gangren.
b. Gangren Kaki Diabetik
Ada dua teori utama mengenai terjadinya komplikasi kronik DM akibat hiperglikemia, yaitu teori sorbitol dan teori glikosilasi.
Teori Sorbitol
Hiperglikemia akan menyebabkan penumpukan kadar glukosa pada sel dan jaringan tertentu dan dapat mentransport glukosa tanpa insulin. Glukosa yang berlebihan ini tidak akan termetabolisasi habis secara normal  melalui glikolisis, tetapi sebagian dengan perantaraan enzim aldose reduktase akan diubah menjadi sorbitol. Sorbitol akan tertumpuk dalam sel / jaringan tersebut dan menyebabkan kerusakan dan perubahan fungsi.
2. Teori Glikosilasi
Akibat hiperglikemia akan menyebabkan terjadinya glikosilasi pada semua protein, terutama yang mengandung senyawa lisin. Terjadinya proses glikosilasi pada protein membran basal dapat menjelaskan semua komplikasi baik makro maupun mikro vaskular.
Terjadinya Kaki Diabetik (KD) sendiri disebabkan oleh faktor – faktor disebutkan dalam etiologi. Faktor utama yang berperan timbulnya KD adalah angiopati, neuropati dan infeksi. Neuropati merupakan faktor penting untuk terjadinya KD. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik maupun motorik. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki, sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan terjadinya ulkus pada kaki gangguan motorik juga akan mengakibatkan terjadinya atrofi otot kaki, sehingga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulsetrasi pada kaki pasien. Angiopati akan menyebabkan terganggunya  aliran darah  ke kaki. Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka  penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin, nyeri kaki di malam hari, denyut arteri hilang, kaki menjadi pucat bila dinaikkan. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi, oksigen ( zat asam ) serta antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh ( Levin,1993). Infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai KD akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati, sehingga faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhdap penyembuhan atau pengobatan dari KD.
5. Klasifikasi
Wagner ( 1983 ) membagi gangren kaki diabetik menjadi enam tingkatan , yaitu :
Derajat 0       : Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh dengan kemungkinan
disertai kelainan bentuk kaki seperti “ claw,callus “.
Derajat I       : Ulkus superfisial terbatas pada kulit.
Derajat II      : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang.
Derajat III     : Abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis.
Derajat IV    : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis.
Derajat V      : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai.
Sedangkan Brand (1986) dan Ward (1987) membagi gangren kaki menjadi dua golongan :
Kaki Diabetik akibat Iskemia ( KDI )
Disebabkan penurunan aliran darah ke tungkai akibat adanya makroangiopati ( arterosklerosis ) dari pembuluh darah besar ditungkai, terutama di daerah betis.
Gambaran klinis KDI :  
Penderita mengeluh nyeri waktu istirahat.
Pada perabaan terasa dingin.
Pulsasi pembuluh darah kurang kuat.
Didapatkan ulkus sampai gangren.
Kaki Diabetik akibat Neuropati ( KDN )
Terjadi kerusakan syaraf somatik dan otonomik, tidak ada gangguan dari sirkulasi. Klinis di jumpai kaki yang kering, hangat, kesemutan, mati rasa, oedem kaki, dengan pulsasi pembuluh darah kaki teraba baik.
6. Dampak masalah
Adanya penyakit gangren kaki diabetik akan mempengaruhi kehidupan individu dan keluarga. Adapun dampak masalah yang bisa terjadi meliputi :
Pada Individu
Pola dan gaya hidup penderita akan berubah dengan adanya penyakit ini, Gordon telah mengembangkan 11 pola fungsi kesehatan yang dapat digunakan untuk mengetahui perubahan tersebut.
Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Pada pasien gangren kaki diabetik  terjadi perubahan persepsi dan tata laksana hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak   gangren kaki diabetuk sehingga menimbulkan persepsi yang negatif terhadap dirinya dan kecenderungan untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang lama, oleh karena itu perlu adanya penjelasan yang benar dan mudah dimengerti pasien.
Pola nutrisi dan metabolisme
Akibat produksi insulin tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin maka kadar gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan keluhan sering kencing, banyak makan, banyak minum, berat badan menurun dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengaruhi status kesehatan  penderita.
Pola eliminasi
Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik yang menyebabkan pasien sering kencing (poliuri) dan pengeluaran glukosa pada urine ( glukosuria ). Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan.
Pola tidur dan istirahat
Adanya poliuri, nyeri pada kaki yang luka dan situasi rumah sakit yang ramai akan mempengaruhi waktu tidur dan istirahat penderita, sehingga pola tidur dan waktu tidur penderita mengalami perubahan.
Pola aktivitas dan latihan
Adanya luka gangren dan kelemahan otot – otot pada tungkai bawah menyebabkan penderita tidak mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari secara maksimal, penderita  mudah mengalami kelelahan.
Pola hubungan dan peran
Luka gangren yang sukar sembuh dan berbau menyebabkan penderita malu dan menarik diri dari pergaulan.
Pola sensori dan kognitif
Pasien dengan gangren cenderung mengalami neuropati / mati rasa pada luka sehingga tidak peka terhadap adanya trauma.
Pola persepsi dan konsep diri
Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh akan menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. Luka yang sukar sembuh, lamanya perawatan, banyaknya biaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga ( self esteem ).
Pola seksual dan reproduksi
Angiopati dapat terjadi pada sistem pembuluh darah di organ reproduksi sehingga menyebabkan gangguan potensi sek, gangguan kualitas maupun  ereksi, serta memberi dampak pada proses ejakulasi serta orgasme.
Pola mekanisme stres dan koping
Lamanya waktu perawatan, perjalanan penyakit yang kronik, perasaan tidak berdaya karena ketergantungan menyebabkan reaksi psikologis yang negatif  berupa marah, kecemasan, mudah tersinggung dan lain – lain, dapat menyebabkan penderita tidak mampu menggunakan mekanisme koping yang konstruktif / adaptif.
Pola tata nilai dan kepercayaan
Adanya perubahan status kesehatan dan penurunan fungsi tubuh serta luka pada kaki tidak menghambat penderita dalam melaksanakan ibadah tetapi mempengaruhi pola ibadah penderita.
Dampak pada keluarga
Dengan adanya salah satu anggota keluarga yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan muncul bermacam –macam reaksi psikologis dari kelurga, karena masalah kesehatan yang dialami oleh seorang anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga. Waktu perawatan yang lama dan biaya yang banyak akan mempengaruhi keadaan ekonomi keluarga dan perubahan peran pada keluarga karena salah satu anggota keluarga tidak dapat menjalankan perannya.     
Asuhan keperawatan
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien gangren kaki diabetik hendaknya dilakukan secara komperhensif dengan menggunakan proses keperawatan.
Proses keperawatan adalah suatu metode sistematik untuk mengkaji respon manusia terhadap masalah-masalah dan membuat rencana keperawatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah – masalah tersebut. Masalah-masalah kesehatan dapat berhubungan dengan klien keluarga juga  orang terdekat atau masyarakat. Proses keperawatan mendokumentasikan kontribusi perawat dalam mengurangi / mengatasi masalah-masalah  kesehatan.
Proses keperawatan terdiri dari lima tahapan, yaitu : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah utama dan dasar utama dari proses keperawatan yang mempunyai dua kegiatan pokok, yaitu :
Pengumpulan data
Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu dalam menentukan status kesehatan dan pola pertahanan penderita , mengidentifikasikan,  kekuatan dan kebutuhan penderita yang dapt diperoleh melalui anamnese, pemeriksaan   fisik, pemerikasaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.
Anamnese
Identitas penderita
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, status perkawinan, suku bangsa, nomor register, tanggal masuk rumah sakit dan diagnosa medis.
Keluhan Utama
Adanya rasa kesemutan pada kaki / tungkai bawah, rasa raba yang menurun, adanya luka yang tidak sembuh – sembuh dan berbau, adanya nyeri pada luka.
Riwayat kesehatan sekarang
Berisi tentang kapan terjadinya luka, penyebab terjadinya luka serta upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya.
Riwayat kesehatan dahulu
Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit – penyakit  lain yang ada kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas.  Adanya riwayat penyakit jantung, obesitas, maupun arterosklerosis, tindakan medis yang pernah di dapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan oleh penderita.
Riwayat kesehatan keluarga
Dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu anggota keluarga yang juga menderita DM atau penyakit keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya defisiensi insulin misal hipertensi, jantung.
Riwayat psikososial
Meliputi informasi mengenai prilaku, perasaan dan emosi yang dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap penyakit penderita.
Pemeriksaan fisik
Status kesehatan umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan, berat badan dan tanda – tanda vital.
Kepala dan leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher, telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran, lidah sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda, diplopia, lensa mata keruh.
Sistem integumen
Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka, kelembaban dan shu kulit di daerah  sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan kuku.
Sistem pernafasan
Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita DM mudah terjadi infeksi.
Sistem kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau   berkurang, takikardi/bradikardi, hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis.
Sistem gastrointestinal
Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi, dehidrase, perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen, obesitas.
Sistem urinary
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih.
Sistem muskuloskeletal
Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahn tinggi badan, cepat lelah, lemah dan nyeri, adanya gangren di ekstrimitas.
Sistem neurologis
Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi, mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi.
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah :
Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl, gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl.
Urine
Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine. Pemeriksaan dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ), kuning ( ++ ), merah ( +++ ), dan merah bata  ( ++++ ).
Kultur pus
Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kuman.



Analisa Data
Data yang sudah terkumpul selanjutnya dikelompokan dan dilakukan analisa serta sintesa data. Dalam mengelompokan data dibedakan atas data subyektif dan data obyektif dan berpedoman pada teori Abraham Maslow yang terdiri dari :
Kebutuhan dasar atau fisiologis
Kebutuhan rasa aman
Kebutuhan cinta dan kasih sayang
Kebutuhan harga diri
Kebutuhan aktualisasi diri
Data yang telah dikelompokkan tadi di analisa sehingga dapat diambil kesimpulan tentang masalah keperawatan dan kemungkinan penyebab, yang dapat dirumuskan dalam bentuk diagnosa  keperawatan meliputi aktual, potensial, dan kemungkinan.
Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon individu, keluarga atau komunitas terhadap proses kehidupan/ masalah kesehatan. Aktual atau potensial dan kemungkinan dan membutuhkan  tindakan keperawatan untuk memecahkan masalah tersebut.
Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien gangren kaki diabetik adalah sebagai berikut :
Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya / menurunnya aliran darah  ke daerah gangren akibat adanya  obstruksi pembuluh darah.
Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas.
Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan.
Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka.
Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang.
Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis ) berhubungan dengan tingginya kadar gula darah.
Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.
Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh.
Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.
Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka intervensi dan aktivitas keperawatan perlu ditetapkan untuk mengurangi, menghilangkan, dan mencegah masalah keperawatan penderita. Tahapan ini disebut perencanaan keperawatan yang meliputi penentuan prioritas, diagnosa keperawatan, menetapkan sasaran dan tujuan, menetapkan kriteria evaluasi dan merumuskan intervensi dan aktivitas keperawatan.
Diagnosa no. 1
Gangguan perfusi berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.
Tujuan : mempertahankan sirkulasi  perifer tetap normal.
Kriteria Hasil : - Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler
              - Warna kulit sekitar luka tidak pucat/sianosis
              - Kulit sekitar luka teraba hangat.
              - Oedema tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah.
              - Sensorik dan motorik membaik
Rencana tindakan :
Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi
Rasional : dengan mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah.
Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah  :
Tinggikan kaki sedikit lebih rendah  dari jantung  ( posisi elevasi pada waktu istirahat ), hindari penyilangkan kaki, hindari balutan ketat, hindari penggunaan bantal, di belakang lutut dan sebagainya.
Rasional : meningkatkan melancarkan aliran darah balik sehingga tidak terjadi oedema.
Ajarkan tentang modifikasi faktor-faktor resiko berupa :
Hindari diet tinggi kolestrol, teknik relaksasi, menghentikan kebiasaan merokok, dan penggunaan obat vasokontriksi.
Rasional : kolestrol tinggi dapat mempercepat terjadinya arterosklerosis, merokok dapat menyebabkan terjadinya  vasokontriksi pembuluh darah, relaksasi untuk mengurangi efek dari stres.
Kerja sama dengan tim kesehatan lain dalam pemberian vasodilator, pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen ( HBO ).
Rasional : pemberian vasodilator akan meningkatkan dilatasi pembuluh darah sehingga perfusi jaringan dapat diperbaiki, sedangkan pemeriksaan gula darah secara rutin dapat mengetahui perkembangan dan keadaan pasien, HBO untuk memperbaiki oksigenasi daerah ulkus/gangren.
Diagnosa no. 2
Ganguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas.
Tujuan : Tercapainya proses penyembuhan luka.
Kriteria hasil :               1.Berkurangnya oedema sekitar luka.
2. pus dan jaringan berkurang
3. Adanya jaringan granulasi.
4. Bau busuk luka berkurang.
Rencana tindakan :
Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan.
Rasional : Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan akan membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya.
Rawat luka dengan baik dan benar  : membersihkan luka secara abseptik menggunakan larutan yang tidak iritatif, angkat sisa balutan yang menempel pada luka dan nekrotomi jaringan yang mati.
Rasional : merawat luka dengan teknik aseptik, dapat menjaga kontaminasi luka dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi tyang timbul, sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin, pemeriksaan  kultur pus  pemeriksaan gula darah pemberian anti biotik.
Rasional : insulin akan menurunkan kadar gula darah, pemeriksaan kultur pus untuk mengetahui jenis kuman dan anti biotik yang tepat untuk pengobatan, pemeriksaan kadar gula darahuntuk mengetahui perkembangan penyakit.
Diagnosa no. 3
Ganguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan.
Tujuan : rasa nyeri hilang/berkurang
Kriteria hasil :  1.Penderita secara verbal mengatakan nyeri berkurang/hilang .
2. Penderita dapat melakukan metode atau tindakan untuk mengatasi atau mengurangi nyeri .
3. Pergerakan penderita bertambah luas.
4. Tidak ada keringat dingin, tanda vital dalam batas normal.( S : 36 – 37,5 0C, N: 60 – 80 x /menit, T : 100 – 130 mmHg, RR : 18 – 20 x /menit ).
Rencana tindakan :
Kaji tingkat, frekuensi, dan reaksi nyeri yang dialami pasien.
Rasional : untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien.
Jelaskan pada pasien tentang sebab-sebab timbulnya nyeri.
Rasional : pemahaman pasien tentang penyebab nyeri yang terjadi akan mengurangi ketegangan pasien dan memudahkan pasien untuk diajak bekerjasama dalam melakukan tindakan.
Ciptakan lingkungan yang tenang.
Rasional : Rangasanga yang berlebihan dari lingkungan akan memperberat rasa nyeri.
Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi.
Rasional : Teknik distraksi dan relaksasi dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan pasien.
Atur posisi pasien senyaman mungkin sesuai keinginan pasien.
Rasional : Posisi yang nyaman akan membantu memberikan kesempatan pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin.
Lakukan massage dan kompres luka dengan BWC saat rawat luka.
Rasional :  massage dapat meningkatkan vaskulerisasi dan pengeluaran pus sedangkan BWC sebagai desinfektan yang dapat memberikan rasa nyaman.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.
Rasional : Obat –obat analgesik dapat membantu mengurangi nyeri pasien. 
Diagnosa no. 4
Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.
Tujuan : Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang optimal.
Kriteria Hasil :  1.  Pergerakan paien bertambah luas
2. Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan ( duduk, berdiri, berjalan ).
3. Rasa nyeri berkurang.
4. Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan.
Rencana tindakan :
Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan otot pada kaki pasien.
Rasional : Untuk mengetahui derajat  kekuatan otot-otot  kaki pasien.
Beri penjelasan tentang pentingnya melakukan aktivitas untuk menjaga kadar gula darah dalam keadaan normal.
Rasional : Pasien mengerti pentingnya aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam tindakan keperawatan.
Anjurkan pasien untuk menggerakkan/mengangkat ekstrimitas bawah sesui kemampuan.
Rasional : Untuk melatih otot – otot kaki sehingg berfungsi dengan baik.
Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya.
Rasional : Agar kebutuhan pasien tetap dapat terpenuhi.
Kerja sama dengan tim kesehatan lain : dokter ( pemberian analgesik ) dan tenaga fisioterapi.
Rasional : Analgesik dapat membantu mengurangi rasa nyeri, fisioterapi untuk melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar.
Diagnosa no. 5
Gangguan pemenuhan nutrisi ( kurang dari ) kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang.
Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi
Kriteria hasil :    1. Berat badan dan tinggi badan ideal.
2. Pasien mematuhi dietnya.
3. Kadar gula darah dalam batas normal.
4. Tidak ada tanda-tanda hiperglikemia/hipoglikemia.
Rencana Tindakan :
Kaji status nutrisi dan kebiasaan makan.
Rasional : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengaturan diet yang adekuat.


Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan.
Rasional : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipoglikemia/hiperglikemia.
Timbang berat badan setiap seminggu sekali.
Rasional : Mengetahui perkembangan berat badan pasien ( berat badan merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet ).
Identifikasi perubahan pola makan.
Rasional : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan. 
Kerja sama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian insulin dan diet diabetik.
Rasional : Pemberian insulin akan meningkatkan pemasukan glukosa ke dalam jaringan sehingga gula darah menurun,pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan gula darah dan mencegah komplikasi.
Diagnosa no. 6
Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis) berhubungan dengan tinggi kadar gula darah.
Tujuan : Tidak terjadi penyebaran infeksi (sepsis).
Kriteria Hasil :  1. Tanda-tanda infeksi tidak ada.
2. Tanda-tanda vital dalam batas normal ( S : 36 – 37,5 0C )
3. Keadaan luka baik dan kadar gula darah normal.
Rencana tindakan :
Kaji adanya tanda-tanda penyebaran infeksi pada luka.
Rasional : Pengkajian yang tepat tentang tanda-tanda penyebaran infeksi dapat membantu menentukan tindakan selanjutnya.
Anjurkan kepada pasien dan keluarga untuk selalu menjaga kebersihan diri selama perawatan.
Rasional : Kebersihan diri yang baik merupakan salah satu cara untuk mencegah infeksi kuman.
Lakukan perawatan luka secara aseptik.
Rasional  : untuk mencegah kontaminasi luka dan penyebaran infeksi.
Anjurkan pada pasien agar menaati diet, latihan fisik, pengobatan yang ditetapkan.
Rasional : Diet yang tepat, latihan fisik yang cukup dapat meningkatkan daya tahan tubuh, pengobatan yang tepat, mempercepat penyembuhan sehingga memperkecil kemungkinan terjadi penyebaran infeksi.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotika dan insulin.
Rasional : Antibiotika dapat menbunuh kuman, pemberian insulin akan menurunkan kadar gula dalam darah sehingga proses penyembuhan.
Diagnosa no. 7
Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.
Tujuan : rasa cemas berkurang/hilang.
Kriteria Hasil :  1. Pasien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan.
2. Emosi stabil., pasien tenang.
3. Istirahat cukup.
Rencana tindakan :
Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.
Rasional : Untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat.
Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.
Rasional : Dapat meringankan beban pikiran pasien.
Gunakan komunikasi terapeutik.
Rasional : Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan.
Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan.
Rasional : Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien.
 Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.
Rasional : Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien.
 Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara   bergantian.
Rasional : Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu.
Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.
Rasional : lingkung yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien.
Diagnosa no. 8
Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya.
Kriteria Hasil : 1. Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya.
2. Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.
Rencana Tindakan :
Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit DM dan gangren.
Rasional : Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga.
Kaji latar belakang pendidikan pasien.
Rasional : Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien.
Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.
Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Jelasakan prosedur yang kan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya.
Rasional : Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secra langsung dalam tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang.
Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan ( jika ada / memungkinkan).
Rasional : gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan.
Diagnosa no. 9
Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh.
Tujuan : Pasien dapat menerima perubahan bentuk salah satu anggota tubuhnya secar positif.
Kriteria Hasil : -  Pasien mau berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan. Tanpa rasa malu dan rendah diri.
-  Pasien yakin akan kemampuan yang dimiliki.
Rencana tindakan :
Kaji perasaan/persepsi pasien tentang perubahan gambaran diri berhubungan dengan keadaan anggota tubuhnya yang kurang berfungsi secara normal.
Rasional : Mengetahui adanya rasa negatif pasien terhadap dirinya.
Lakukan pendekatan dan bina hubungan saling percaya dengan pasien.
Rasional : Memudahkan dalm menggali permasalahan pasien.
Tunjukkan rasa empati, perhatian dan penerimaan pada pasien.
Rasional : Pasien akan merasa dirinya di hargai.
Bantu pasien untuk mengadakan hubungan dengan orang lain.
Rasional : dapat meningkatkan kemampuan dalam mengadakan hubungan dengan orang lain dan menghilangkan perasaan terisolasi.
Beri kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan kehilangan.
Rasional : Untuk mendapatkan dukungan dalam proses berkabung yang normal.
Beri dorongan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan diri dan hargai pemecahan masalah yang konstruktif dari pasien.
Rasional : Untuk meningkatkan perilaku yang adiktif dari pasien.
Diagnosa no.10
Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki.
Tujuan : Gangguan pola tidur pasien akan teratasi.
Kriteria hasil : 1. Pasien mudah tidur dalam waktu 30 – 40 menit.
2. Pasien tenang dan wajah segar.
3. Pasien mengungkapkan dapat beristirahat dengan cukup.
Rencana tindakan :
Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang.
Rasional : Lingkungan yang nyaman dapat membantu meningkatkan tidur/istirahat.
Kaji tentang kebiasaan tidur pasien di rumah.
Rasional : mengetahui perubahan dari hal-hal yang merupakan kebiasaan pasien ketika tidur akan mempengaruhi pola tidur pasien.
Kaji adanya faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain seperti cemas, efek obat-obatan dan suasana ramai.
Rasional : Mengetahui faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain dialami dan dirasakan pasien.
Anjurkan pasien untuk menggunakan pengantar tidur dan teknik  relaksasi .
Rasional : Pengantar tidur akan memudahkan pasien dalam jatuh dalam tidur, teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan dan rasa nyeri.
Kaji tanda-tanda kurangnya  pemenuhan kebutuhan tidur pasien.
Rasional : Untuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya kebutuhan tidur pasien akibat gangguan pola tidur sehingga dapat diambil tindakan yang tepat.
Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah tahap pelaksananan terhadap rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, disamping itu juga dibutuhkan ketrampilan interpersonal, intelektual, teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi  yang tepat dengan  selalu memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. Setelah selesai implementasi, dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang diharapkan dalam perencanaan.
Perawat mempunyai tiga alternatif dalam menentukan sejauh mana tujuan tercapai:
Berhasil : prilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau tanggal yang ditetapkan di tujuan.
Tercapai sebagian : pasien menunujukan prilaku tetapi tidak sebaik yang ditentukan dalam pernyataan tujuan.
Belum tercapai. : pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan prilaku yang diharapakan sesuai dengan pernyataan tujuan.

Senin, 02 Januari 2012

askep anemia


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    PENGERTIAN
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit lebih rendah dari harga normal.
Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan Ht < 41 % pada pria atau Hb < 12 g/dl dan Ht < 37 % pada wanita.
Memungkinkan terjadinya :
·    Penurunan kuantitas hemoglobin
·    Penurunan komponen eritrosit

1.2    ETIOLOGI
Dikelompokkan menjadi 2 faktor utama, yaitu :
1.    Penurunan produksi eritrosit, dapat terjadi karena :
a.    Kerusakan sumsum tulang
b.    Berkurangnya bahan pembentuk eritrosit
2.    Peningkatan kehilangan eritrosit dalam sirkulasi
a.    percepatan penghancuran eritrosit
b.    Perdarahan

1.3    PATOFISIOLOGI
Produksi SDM sumsum tulang terganggu atau SDM yang terbentuk rusak/hilang.   

Kapasitas sel-sel pembawa oksigen berkurang yang dipengaruhi oleh invasi sel-sel tumor, racun, obat-obatan/bahan kimia. Kurang nutrisi pembentuk SDM dan zat besi asam folik, B12 atau kekurangan exytroprotein akibat penyakit ginjal. SDM dapat dirusak juga oleh sel-sel pagosit pada RES (Retikulo Endotel Sistem) dalam hati dan lien.



SDM rusak/pecah à terbentuk bilirubin yang masuk aliran darah. Billirubin diekskresikan melalui kulit à kuning


Kehilangan darah 1000 ml atau lebih à hilangnya beberapa struktur darah yang akut.
Kehilangan darah 30 % atau lebih à diaphoresisi, gelisah, takikardi, nafas tersengal-sengal, shock.

                    HYPOXIA


                Tubuh mengadakan kompensasi
·    Cardiac output < pernafasan meningkat untuk memperbanyak jumlah oksigen ke jaringan
·    Meningkatkan pelepasan oksigen oleh hemoglobin
·    Meningkatkan volume plasma dengan cara mengeluarkan cairan dari jaringan
·    Distribusi ulang darah ke organ-organ vital

Cerebral Hypoxia                    Hypoxia kronis

Gangguan mental                    Gejala GIT
Mengantuk                        Anoreksia
Sakit kepala                        Nausea
Pusing                            Konstipasi/diare
Finitas                            Stematitis


1.4    MANIFESTASI KLINIS
·    Sistem cardiovascular : sianosis/pucat, tachycardia
·    Sistem respirasi : dyspnea
·    Sistem syaraf pusat : pusing/sakit kepala, tinnitus
·    Sistem pencernaan : diare/konstipasi, anoreksia, nausea, stomatitis.

1.5    PEMERIKSAAN PENUNJANG
·    Uji Hematologi/Lab. Darah : untuk menentukan jenis dan penyebab anemia
-    Kadar Hb/Hmt
-    Indeks eritrosit, leukosit dan trombosit
-    Kadar Fe, asam folat, Vitamin B12
-    Waktu pendarahan, waktu protrombin dan waktu tromboplastin
·    Aspirasi dan biopsy sumsum tulang
·    Penatalaksanaan
-    Ditujukan untuk mencari penyebab
-    Mengganti darah yang hilang
Dan penatalaksanaan tergantung dari jenis anemia (Aplasti, hemolitik, defisiensi besi, megaloblastik, dll)

1.6    KOMPLIKASI
Komplikasi
§    gagal jantung
§    parestesia
§    kejang







BAB II
ASKEP
(Asuhan Keperawatan)


1.1    PENGKAJIAN
a.    Riwayat Kesehatan
·    Keluhan utama : kelemahan, kelelahan, malaise
·    Riwayat konsumsi obat
·    Riwayat minum alcohol
·    Riwayat terjadinya kehilangan darah berlebihan
·    Riwayat keluarga
·    Riwayat nutrisi : kekurangan nutrisi esensial seperti besi, Vitamin B12 dan asam folat.
b.    Pemeriksaan Fisik
·    Status perfusi jaringan : kulit/mukosa pucat
·    Status respirasi : dispnea
·    Status cardiovaskuler : takikardi, palpitasi
·    Status saraf pusat : parestesia, gangguan koordinasi dan kejang
·    Status gastrointestinal : mual, muntah, diare, anoreksia, stomatitis.

1.2    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Intoleransi aktivitas
·    Tanda : kelemahan, banyak istirahat, palpitasi, takikardi, peningkatan TD, dispnea.
·    Kriteria evaluasi : peningkatan toleransi aktivitas ; nadi, pernafasan dan tekanan darah normal.
·    Intervensi :
-    Kaji kemampuan melakukan tugas, catat adanya kelelahan dan kesulitan melakukan tugas
-    Kaji gangguan keseimbangan jalan dan kelemahan otot
-    Awasi vital sign selama dan sesudah aktivitas
-    Ubah posisi perlahan, pantau terhadap pusing
-    Beri bantuan aktivitas/ambulasi bila perlu
-    Anjurkan menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, nafas pendek, kelemahan dan pusing.
2.    Perubahan Nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
·    Tanda : penurunan BB, perubahan mukosa mulut ; kehilangan tonus otot
·    Kriteria evaluasi : peningkatan BB/stabil dengan nilai Laboratorium normal ; tidak ada tanda malnutrisi
·    Intervensi :
-    Observasi dan catat masukan makanan
-    Timbang berat badan setiap hari
-    Observasi mual/muntah, flatus dan gejala lain
-    Berikan dan Bantu hygiene mulut yang baik
-    Berikan pencuci mulut yang diencerkan bila mukosa oral luka
-    Pantau hasil lab : Hb/Hmt, protein, besi, B12, asam folat dan elektrolit serum
-    Beri obat sesuai interuksi : vitamin, mineral, besi oral
-    Beri diet halus, rendah serat, tidak merangsang
3.    Resiko tinggi terhadap infeksi
·    Kriteria evaluasi : mengidentifikasi perilaku untuk mencegah resiko infeksi, meningkatkan penyembuhan luka dan bebas demam.
·    Intervensi :
-    Tingkatkan cuci tangan yang baik oleh pemberi perawatan dan klien
-    Pertahankan tehnik aseptic
-    Berikan perawatan kulit, perianal dan oral
-    Tingkatkan masukan cairan adekuat
-    Pantau dan batasi pengunjung, beri isolasi
-    Pantau suhu
-    Ambil spesimen untuk kultur sesuai indikasi
-    Berikan antiseptic topical ; antibiotic sistemik
4.    Kerusakan integritas kulit/resiko kerusakan integritas kulit
·    Kriteria evaluasi : Mengidentifikasi factor-faktor perilaku untuk mencegah cidera kulit.
·    Intervensi :
-    Catat adanya perubahan pada turgor, warna, hangat local, eritema
-    Ubah posisi secara periodic
-    Ajarkan agar kulit tetap kering dan bersih
-    Bantu latihan rentang gerak pasif
-    Gunakan alat pelindung ; kasur tekanan udara, bantal sesuai indikasi
5.    Konstipasi/diare berhubungan dengan penurunan masukan diet, perubahan pencernaan, efek samping terapi oral.
·    Tanda : perubahan frekuensi, karakteristik dan jumlah feces ; mual/muntah ; anoreksia; nyeri abdomen tiba-tiba, gangguan bunyi usus.
·    Kriteria evaluasi : fungsi usus normal ; perubahan perilaku hidup yang diperlukan sebagai penyebab.
·    Intervensi :
-    Observasi warna, konsistensi, frekuensi, jumlah.
-    Auskultasi bunyi usus
-    Awasi masukan/keluaran
-    Dorong masukan 2500-3000 ml
-    Konsul dengan ahli gizi : diet tinggi serat
-    Berikan pelembek feces atau enema sesuai indikasi
-    Berikan obat anti diare sesuai indikasi
6.    Perubahan perfusi jaringan
·    Kemungkinan dibuktikan oleh : palpitasi, kulit pucat, membrane mukosa kering, kuku dan rambut rapuh, ekstremitas dingin, penurunan haluaran urine, penurunan tekanan darah capilari refill melambat, disorientasi.
·    Kriteria evaluasi : menunjukkan perfusi adekuat ; tanda vital stabil, membrane mukosa berwarna merah muda, capilari refill baik, mental baik.
·    Intervensi :
-    Awasi tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa dan kuku
-    Tinggikan kepala tempat tidur sesuai toleransi
-    Awasi upaya pernafasan : auskultasi bunyi nafas
-    Selidiki keluhan nyeri dada dan palpitasi
-    Kaji respon verbal melambat, agitasi bingung
-    Catat keluhan dingin, pertahankan suhu lingkungan sesuai indikasi
-    Awasi pemeriksaan laboratorium : Hb, Mmt dan jumlah eritrosit
-    Berikan sel darah merah sesuai indikasi
-    Berikan oksigen sesuai indikasi

1.3    ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN HEMATOLOGI DENGAN ANEMIA DEFISIENSI BESI
Pengkajian dimulai tanggal    : 20 Desember 2005
Pengkajian berakhir tanggal    : 22 Desember 2005

PENGKAJIAN
I.    IDENTITAS KLIEN
Nama klien        : Nn. “MR”
Umur            : 20 tahun
Jenis kelamin        : Perempuan
Agama            : Kristen
Status perkawinan    : Belum kawin
Pendidikan        : SMA

Pekerjaan        : Wiraswasta
Alamat            : Ds. Pasarlegi-Kec. Sambeng. Lamongan

II.    STATUS KESEHATAN
·    Riwayat Penyakit Sebelumnya
Pasien mengatakan seelumnya pernah menderita panyakit yang sama dan pernah MRS di RSUD Dr. Soegiri LMG.
·    Riwayat Penyakit Keluarga
Dalam keluarga pasien yang mempunyai penyakit sama dengan pasien adalah ibu pasien. Sedangkan dalam keluarga pasien tidak ada penyakit menurun (seperti Diabetes Millitus, epilepsy, dll) maupun penyakit menular (seperti TBC, lepra, dll)
·    Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengatakan badan lemas, nafsu makan berkurang, pusing, tidak bias beraktivitas dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, mual, muntah. Hal ini sudah dirasakan sejak 2 hari yang lalu.







Keterangan :
        :    (wanita)
        :    (pria)
        :      Pasien
        :      Tinggal bersama pasien
        :                     yang menderita penyakit
        :                    sama dengan pasien
III.    POLA FUNGSI KESEHATAN
a.    Pola Aktivitas dan Latihan
·    Sebelum sakit     : Pasien dapat melakukan segala aktivitas sendiri
·    Saat ini     : Pasien untuk keperluan mandi, berpakaian, eliminasi, makan pasien memerlukan bantuan orang lain, sedang untuk mobilisasi ditempat tidur bisa sendiri.
b.    Pola Istirahat tidur
·    Sebelum sakit    : Pasien tidur siang ± 1 jam, tidur pada malam hari ± 5-6 jam. Kebiasaan tidur pasien tidak mempengaruhi kehidupannya, karena tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan untuk pemenuhan kebutuhan tidur.
·    Saat ini    : Pasien tidur siang ± 2-3 jam, tidur pada malam hari ± 6-8 jam. Karena kondisi pasien yang lemah maka pasien tidurnya agak sedikit terganggu dan tidak nyenyak.
c.    Pola Nutrisi
·    Sebelum sakit    : Pasien makan biasa sehari 3 kali (pagi, siang, malam) tidak teratur jamnya, terkadang makan cuma 2 kali bahkansering 1 kali makan, lauk sering seadanya, minum 5-6 gelas perhari air putih dan the manis/susu sehari 1 kali.
·    Saat ini    : Makan pada awal sakit selama 2 hari tidak mau makan karena perutnya mual dan muntah jika diberi makanan, tapi setelah hari ke 2 itu pasien sudah mulai makan dan makanan yang disajikanpun bergizi tapi sering tidak dihabiskan, makan Cuma 5 sendok serta terlihat makan sate kambing.
d.    Pola Eliminasi
·    Sebelum sakit    : BAB : 1x /hari
             BAK : 3-5x /hari
·    Saat ini    : BAB : 2x /hari
            BAK : 2-4x /hari
e.    Pola Koping
·    Sebelum sakit    : Pasien tidak ada masalah dalam beraktivitas
·    Saat ini    : Masalah utama yang dirasakan selama sakit yaitu merasa capek, badan merasa lemas, kepala pusing, nafsu makan menurun, berat badan menurun, perut mual, sering muntah.
f.    Pola Konsep diri
·    Sebelum sakit    : Harga diri inggi, disiplin dan mandiri
·    Saat ini    : Harga diri tinggi berusaha untuk mandiri, tapi pasien mengalami kesulitan jadi dibantu oleh keluarganya.
g.    Personal Hygiene
·    Sebelum sakit    : Pasien dapat membersihkan tubuh secara bersih dan mandiri
·    Saat ini    : Pasien berkeadaa tubuh bersih, mandi (muka dan tangan) dibersihkan keluarga pagi dan sore, gosok gigi tidak mampu, hanya berkumur saja.
h.    Pola Psikologis
·    Sebelum sakit    : Pasien tidak ada masalah dalam psikologisnya
·    Saat ini    : Pasien merasa cemas dan gelisah karena tidak bias/sulit tidur, karena kondisi yang lemah dan perut kembung
i.    Pola Peran dan berhubungan
·    Sebelum sakit    : Pasien dapat berhubungan/berkomunikasi dengan siapapun, baik keluarga maupun teman.
·    Saat ini    : Pasien dalam berhubungan/berkomunikasi tetap baik dengan siapapun, Cuma pasien tidak bias main keluar.
j.    Pola Kognitif
·    Sebelum sakit    : Pasien tidak ada masalah dalam hal kecerdasan.
·    Saat ini    : Pasien masih mampu berbicara, membaca, berfikir, menghitung, daya ingat juga baik, bias berinteraksi dengan orang-orang yang berada di sebelahnya.
k.    Pola Seksual dan Reproduksi
·    Sebelum sakit    : Pasien tidak ada masalah dalam BAK tetap lancer dan normal. Pasien juga lancer setiap bulan dalam menstruasi.
·    Saat ini    : Pasien dalam hal BAK dan menstruasi juga tidak masalah sama seperti sebelum sakit.
l.    Pola Nilai dan Kepercayaan
·    Sebelum sakit    : Pasien tidak ada masalah, tetap bias beribadah setiap hari minggu ke gereja dan seminggu 1x ikut ibadah pemuda.
·    Saat ini    : Pasien hanya bias beribadah dirumah karena tidak bias ikut ibadah di gereja.

IV.    PEMERIKSAAN FISIK
1.    Keadaan Umum
Pasien bedrest di tempat tidur, keadaan tampak lemah, muka pucat, bibir kering, serta kerapian diri sangat kurang, pasien masih mampu menjawab pertanyaan dengan spontan dan pasien tampak cemas dengan penyakit yang ia derita.
2.    Tanda-tanda Vital
Tensi (TD)    : 100/70 mmHg
Nadi        : 100x/menit
Pernafasan    : 28x/menit
Suhu        : 37º C
TB        : 155 cm
BB        : 47 Kg, sebelum sakit ± 49 Kg
3.    Tingkat Kesadaran
Kesadaran umum pasien tampak lemah dan kesadaran GCS Compos Mentis (15) :
-    motorik      : 5
-    verbal        : 5
-    mata    : 5
4.    Pemereiksaan Tubuh
a.    Pemeriksaan Kepala dan Rambut
Bentuk kepala    : bulat, besar, simetris dan kulit kepala : tidak ada luka, tidak berbau, berketombe dan tidak berkutu.
Rambut        : pertumbuhan baik, hitam, agak rontok dan tidak berbau.
Wajah        : bulat oval, struktur wajah simetris, wajah pucat.
Kelainan lain    : -
b.    Pemeriksaan Mata
Kelengkapan    : lengkap kanan dan kiri
Kesimetrisan    : kedua mata simetris dan tidak juling
Konjungtiva    : putih pucat
Seklera        : putih
Pupil        : reflek cahaya baik untuk mengecil dan melebar sama besar.
Kelainan lain    : -
c.    Pemerikaan Hidung
Tulang        : normal, idak ada pembengkakan
Lubang        : tidak ada secret, tidak ada sumbatan, tidak ada pendarahan
Cuping        : bernafas normal, cuping tidak bergerak
Daging tumbuh    : tidak ada polip
Kelainan lain    : -
d.    Pemeriksaan Telinga
Bentuk        : simetris
Lubang        : sedikit ada serumen, tidak ada pendarahan, tidak ada benda asing
Ketajaman        : normal
Ukuran        : sedang
Kelenturan        : normal, lentur
Kelainan lain    : -
e.    Pemeriksaan Mulut
Keadaan bibir        : kering dan pucat
Gigi            : caries gigi tidak ada, warna : kekuningan, disela-sela gigi ada sedikit sisi makanan
Gusi            : tidak ada pendarahan, tidak ada pembengkakan
Lidah            : Warna merah, sedikit kotor, tidak ada pendarahan
Kemempuan menelan    : bias menelan tanpa hambatan (normal)
Kelainan lain        : -
f.    Pemeriksaan Kulit
Kebersihan    : bersih
Kehangatan    : kulit terasa dingin dan pucat
Warna        : pucat
Tekstur        : halus
Tugor        : sedikit turun
Kelainan lain    : -
g.    Pemeriksaan Dada
Bentuk dada        : simetris
Pernafasan            : frekuensi = 28 x / menit
Tanda kesulitan bernafas    : tidak ada
Irama            : regular
Kelainan lain        : -
h.    Pemeriksaan Jantung
Palpitasi            : tidak ada pulsasi
Ictus cordis        : normal
Pembesaran jantung    : tidak ada pembesaran (normal)
Auskultasi            :
    Bunyi jantung I    : suara “lub”
    Bunyi jantung II    : suara “dub”
Bunyi jantung tambahan    : tidak ada bunyi
Suara bising        : tidak ada suara
    Frekuensi denyut jantung : 100x/menit
Kelainan lain        : -
i.    Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi        : tidak ada distensi (kembung)
Benjolan        : normal
    Benjolan            : tidak ada benjolan
    Banyangan pembuluh darah    : tidak ada
    Auskultasi            : peristaltic usus 10x/menit (normal)
Palpasi        :
    Tanda nyeri tekan    : tidak ada
    Benjolan        : tidak ada
    Tanda acites        : tidak ada
    Hepar            : tidak teraba
    Lien            : tidak teraba
Kelainan lain    : -   
j.    Pemeriksaan Genetalia
Tidak dilakukan pemeriksaan
k.    Pemeriksaan Neurologi
Tingkat kesadaran    : kompos metis (sadar penuh) GCS (15)
Tanda rangsangan otak    : suhu normal, kepala tidak nyeri, tidak kaku kuduk, terasa mual dan muntah
Saraf otak    : semua saraf berfungsi dengan baik (normal)
Reflek    :  normal
Kelainan lain    : -



l.    Pemeriksaan Status Mental
Kondisi emosi perasaan    :    biasa (tidak terlalu senang dan tidak terlalu susah), biasa menerima keadaannya.
Orientasi    :    pasien dapat berorientasi dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan
Proses berfikir    :    ingatan baik, dapat berfikir dengan baik, dapat ambil keputusan dengan cepat, diajak bicara bias sambung.
Persepsi    :    persepsi klien kepada dirinya sendiri, orang lain, lingkungan baik
Bahasa    :    bahasa dan kata-kata yang digunakan jelas mudah dimengerti
Kelainan lain    :    -

V.    DATA PENUNJANG
Menurut pasien, pasien pernah dating ke RS sebelumnya dan di diagnosa, lalu pasien mengatakan menderita penyakit Anemia Defisiensi Besi. Hb saat masuk RS 7,6 g/dl, Hb saat keluar RS 11,2 g/dl.

VI.    TERAPI MEDIS
_







PRIORITAS MASALAH


I.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhibungan dengan intake kurang, akibat Hb rendah
II.    Intoleransi Aktivitas berdasarkan tidak seimbangnya antara 02 dan kebutuhan.
III.    Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pengoatan berdasarkan kurangnya informasi.























ANALISA DATA

No    Analisa Data    Problem    Etiologi      
I





II







III    DS =  Klien mengatakan merasa berat
          badannya menurun.
DO = BB turun sebelum sakit = 49 kg
          Saat sakit = 47 kg.
-    Mengeluh mual muntah, nafsu
makan berkurang.
DS =   Klien mengatakan dalam aktivitas
           pemenuhan kebutuhan tidak bisa
          dilakukan sendiri.
DO = -  Pasien trebaring di tempat tidur.
-     Pasien lemah dan merasa lelah.
-     Nadi = 100 x per menit
-     Penafasan = 28 x per menit
-     TD = 90 / 70 mmHg
DS = Klien selalu menanyakan penyebab
          penyakitnya dan kapan ia bisa
          sembuh.
DO = - Pasien nampak lemas
-    Pasien kurang bersemangan dalam program pengobatan
    Ketidakseimbangan
Nutrisi kurang dari
Kebutuhan tubuh



Intoleransi aktivitas







Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan
    Intake kurang akibat HB turun



Tidak seimbang antara O2 dan kebutuhan.




Kurang informasi
   








 
Dx    Tanggal     Implementasi      
I    20-12-05    -    Memerlukan observasi tanda-tanda vital
T = 100/70 mmHg
N = 100 x / memnit
R = 28 x / menit
-    SH = 370C
-    Membantu memberikan makanan dalam porsi kecil dan hangat
-    Mengkonsultasikan dengan ahli gizi
-    Mengkaji riwayat makanan yang disukai pasien lebih suka makanan yang ada kuahnya beserta lauknya terserah, tidak suka makan sayuran hijau.      
II    21-12-05    -    Mengkaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas
-    Pasien merasa lelah dan letih serta kesulitan setelah turun dari dari tempat tidur.
-    Mengobservasi tanda-tanda vital setelah aktivitas
TD : 110/80 mmHg
N   : 92 x / menit
R   : 24 x / menit
SH : 370C
-    Membantu klien makan
-    Memberi anjuran pada klien      
III    22-12-05    -    Mengkaji tingkat pengetahuan pasien tentang penyakit dan pengobatan
-    Menjelaskan penyebab penyakitnya pada klien
-    Menjelaskan tujuan pemeriksaan dan pengobatan
-    Memberikan pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan amemia.    

CATATAN PERKEMBANGAN

Dx    Tanggal     Implementasi      
I    20-12-05    S :  Klien mengarahkan keadaan masih lemas tapi agak membaik
      dari yang kemarin.
O : -  K.U lemah di tempat tidur
      - Terdapat sedikit makanan yang belum habis di meja makan
- Berat badan menunjukkan sedikit perubahan
- Tanda-tanda Vital
    TD              : 100 / 70 mmHg
    Nadi           : 100 x  / menit
    Pernafasan : 28 x / menit
    Suhu           : 370C
A :   -  Masalah klien belum teratasi
        -  Makan belum dihabiskan
        -  K.U masih keliahtan lemah
P :    Lanjutkan intervensi
       -  Memberikan makanan keadaan hangat
       -  Menimbang berat badan      
II    21-12-05    S :    Klien mengatakan bisa duduk dan bisa merapikan tempat
        tidurnya sendiri dan bajunya sendiri dan mengarah pada
        kondisi yang sudah membaik, bisa beraktivitas tapi sedang.
O :  -  Pasien rapi
       - Makan dan minum dihabiskan
 - Pasien duduk dan merapikan rambutnya
 - Tanda-tanda Vital
    TD              : 110 / 80 mmHg
    Nadi           : 92 x / menit
    Pernafasan : 24 x / menit
    Suhu           : 370C
A :   Masalah teratasi sebagian
P :   Langkah intervensi
       -  Observasi tanda vital
       -  Membantu dalam aktivitas agak berat.      
III    22-12-05    S :    Klien mengangguk sudah mengerti dan mengatakan sudah
        mampu berjalan ke kamar mandi sendiri
O :  -  Cemas berkurang dan lebih aktif dalam beraktivitas
       - Posisi duduk
 - Lebih santai dan tenang
 - Bisa teratasi
A :   Masalah teratasi
P :    Intervensi dihentikan   




BAB III
PEMBAHASAN


DIAGNOSA KEPERAWATAN  PADA PASIEN ANEMIA DEFISIENSI BESI
Ø    Diagnosa Keperawatan menurut teori Keperawatan :
1.    Intoleransi aktivitas
2.    Perubahan Nutrisi
3.    Resiko tinggi terhadap infeksi
4.    Kerusakan integritas kulit / resiko kerusakan integritas kulit.
5.    Konstipasi / diare berhubungan dengan penurunan masukan diet, perubahan proses pencernaan, efek samping terapi obat.
6.    Perubahan perfusi jaringan.

Ø    Diagnosa Keperawatan yang muncul pada pasien :
1.    Ketidakseimbang nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake kurang, akibat Hb rendah.
2.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tidak seimbang antara O2 dan kebutuhan.
3.    Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Ø    Antara Diagnosa Keperawatan menurut teori Keperawatan disbanding dengan Diagnosa Keperawatan ynag muncul pada pasien, ternyata ada perbedaan, yaitu :
·    Pada pasien Nn “MR” tidak muncul diagnosa :
1.    Resiko tinggi terhadap infeksi
Hal ini dikarenakan pasien sudah dapat menjaga kebersihan dirinya (personal Hygiene) dengan baik.

2.    Kerusakan integritas kulit / Resiko kerusakan integritas kulit.
Hal ini dikarenakan pasien masih ada pergerakan atau tidak bedrest di temapt tidur sehingga sirkulasi darah masih sedikit lancar dan kemungkinan terjadi resiko kerusakan integritas kulit atau dikupitus.
3.    Konstipasi / diare brhubungan dengan penurunan masukan diet, perubahan proses pencernaan, efek samping terapi obat.
Hal ini dikarenakan pasien menyukai makanan yang berkuah sehingga mendapatkan suplai cairan yang cukup.
4.    Perubahan Perfusi Jaringan
Hal ini dikarenakan pasien ini kemungkinan menderita anemia masih dalam tingkat yang ringan sehingga penurunan suplai darah kapiler belum begitu besar.
·    Dan Muncul Diagnosa Baru, yaitu :
1.    Kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.    
Hal ini dikarenakan pasien kurang mendapatkan informasi kesehatan khususnya tentang penyakit yang ia derita, yaitu kesehatan khususnya tentang penyakit yang ia derita, yaitu anemia defisiensi besi.

Ø    Jadi Diagnosa yang ada pada teori tidak selalu muncul pada diagnosa pasien, hal ini dikarenakan kondisi pasien antara satu dengan yang lain berbeda.




RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


No     DIANGOSA KEPERAWATAN    TUJUAN    INTERVENSI     RASIONAL      
I    Keseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan pengurangan jumlah sel darah merah, kwantitas hemoglobin, dan volume pada sel darah merah (homotokrit)    Setelah dilakukan tindakan keadaan pasien membaik dengan kriteria :
-    KU : membaik
-    Nafsu makan naik dengan menghasilkan  setengah makanan yang dihidangkan
-    Berat badan naik ½-1 kg/4-6 hari    1.    Lakukan observasi pada Tanda-tanda Vital pasien
2.    berikan makan apa porsi keil tapi sering
3.    Kaji riwayat nutrisi, termasuk makan yang disukai.
4.    Timbang berat badan tiap hari.
5.    Konsultasi pada ahli gizi.    Untuk mengetahui perkembangan status kesehatan klien.

Makan sedikit dapat menurunkan kelemahan-kelemahan meningktakna pemaukan juga mencegah distergaster.
Mengindentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi.


Mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi.
Membantu membuat rencanan untuk memenuhi kebutuhan individu.    

 
No     DIANGOSA KEPERAWATAN    TUJUAN    INTERVENSI     RASIONAL      
II    Intoleran aktifitas B/d ketidak seimbangan antara suplai 02 dan kebutuhan    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam keadaan umum pasien membaik dengan kriteria :
-    Toleransi aktivitas meningkat (kebutuhan sehari-hari)
-    Nadi N 60 x / menit
-    Pernafasan N 20-24x / menit
-    Tensi : N 120/80 mmHg    1.    Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas cara-cara kelelahan, keletihan dan kesulitan.
2.    Observasi TD. Nadi, eprnafasan selama dan sesudah aktifitas.
3.    Berikan bantuan dalam aktivitas pasien bila perlu.
4.    Anjurkan pasien bila papirasi, nyeri dada nafas pendek, lemah-lemah.    -    Untuk menentukan pilihan intervansi/bantuan






-     Manifestasi kardio pulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah O2 adekuat kejaringan.


-    Membantu pasien bila diperlukan.


-    Pegangan kardio pulmonal berlebihan dapat menimbulkan dekompensasi.      
No     DIANGOSA KEPERAWATAN    TUJUAN    INTERVENSI     RASIONAL      
III    Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pengobatannya sehubungan dengan kurangnya informasi.    Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam pengetahuan pasien berubah dengan kriteria :
-    Pasien tidak bertanya lagi
-    Ekspresi wajah tidak cemas lagi
-    Pasien bersemangat dalam pengobaran program.    1.    Kaji ringkas pengetahuan pasien tentang penyakit dan pengobatan
2.    Beri kesempatan pasien untuk mengekspresikan perasaannya.
3.    Jelaskan tujuan pemeriksaan dan pengobatan
4.    Libatkan pasien dalam setiap tindakan yang akan dilakukan
5.    Berikan pendidikan kesehatan yang berhubungan dengan anemia khususnya tentang anemia defisiensi besi.     -    Memeprmudah dalam intervensi karena tahu tingkat pengetahuan klien.

-    Mengurangi beban klien mengurangi rasa cemas.


-    Dengan klien atau maksud dan tujuan klien lebih percaya dan kooperatif.


-    Membuat klien lebih aktif dan bersemangat.


-    Bertambahnya informasi tentang penyakit membuat klien lebih siap dalam mensikapi penyakitnya.    
BAB IV
PENUTUP


1.1    KESIMPULAN
Berdasarkan Asuhan Keperawatan yang telah kami buat dan juga telah kami implementasikan pada pasien. Maka kami dapat menyimpulkan bahwa hasil yang kami peroleh telah sesuai dengan apa yang kami harapkan walaupun tidak sepenuhnya sesuai dengan Asuhan Keperawatan yang ada menurut teori, tapi efektivitas Asuhan Keperawatan yang telah dibuat telah terbukti dengan kesembuhan pasien atau peningkatan status kesehatan pasien.

1.2    SARAN
Dari Asuhan Keperawatan yang telah kami buat, kami menyarankan bagi pembuat Asuhan Keperawatan berikutnya agar lebih teliti dan akurat dalam pengkajian agar diagnosa yang diangkat sesuai dengan keluhan pasien.















DAFTAR PUSTAKA


Price, A. Sylvia. 2006. Patofisiologi Edisi I, EGC : Jakarta.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. EGC : Jakarta.

Nanda. 2002. Diagnosis Keperawatan Nanda, EGC : Jakarta.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India